Mungkin sudah 6 pasang sepatu dalam 4 tahun terakhir ini aku habiskan. Mulai dari merk antah berantah seharga 85 ribu yang dibeli di Mal Blok M sampai merk Playboy yang dibeli sale 50% di sebuah toko sepatu di Mal Pondok Indah. Tapi apa daya, semua berakhir dengan kondisi sama. Sepatu-sepatu itu patah pada bagian telapak (sol) -nya. Persis dilekukan antara telapak dengan jari-jari kaki.
Bagaimana supaya tidak patah? :
1. Rubah cara berjalan. Rasanya insopibel. Dari sononya sudah begitu. Untuk merubahnya berat, mungkin biayanya lebih gede karena harus kursus dulu di sekolah Modelling Oki Asokawati.
2. Turunkan berat badan. Dengan berat 86 kg sekarang bisa jadi salah satu yang memperpendek umur sepatu2 itu. Tapi dengan berat 74 kg 4 tahun yang lalu saja tetap bikin patah sepatu. So, ini solusinya belum optimal.
3. Cari bahan yang paling tahan untuk telapaknya. Bahan yang paling kenyal alias anti patah itu biasanya bahan yang terbuat dari kulit.
Maka perburuan pencarian sepatu dengan telapak kulit itu pun dimulai. Kebetulan lagi ada Jakarta Great Sales up to 70 %. Berharap ketemu sepatu sesuai yang diinginkan dengan harga reasonable. Hunting ke Pasaraya Grande. Ada yang telapaknya kulit, tapi modelnya tidak sesuai selera. Lagi pula kulit pada telapaknya terpasang setengah. Sudah begitu harganya kemahalan : 1.3 juta. Sayang sekali rasanya nginjak-nginjak duit 1.3 juta. Hunting lagi ke Plasa semanggi. Tidak nemu juga.
Jadi ingat liputan DKI 15 -nya Jak-TV tentang Pasar Baru. Pasar Baru itu dulu khan dikenal sebagai pusat sepatu. Sabtu kemarin akhirnya nyape juga ke Pasar yang berdiri sejak 1820 itu. Toko pertama, celingak-celinguk. Modelnya ggak ada yang menarik hati, lagi pula yang telapaknya kulit tidak ada. Pindah ke toko sepatu kedua. Masih sama dengan kondisi toko pertama.. Toko ketiga..keempat..ke lima… ke enam.. mungkin baru toko ke tujuh ketemu sebuah toko dengan nama chinesse. Toko Sepatu Sin Lie Seng. Ini toko sepatu rada unik dibanding toko sepatu lainnya. Semua sepatu diberi merek yang sama dengan nama tokonya. Toko ini ternyata sepatu-sepatunya bikinan sendiri. Makanya tidak jual merek lain. Juga terima perbaikan sepatu selama sepatu tersebut dibeli di toko itu. Tidak terima perbaikan sepatu merk lain, karena cetakannya ggk ada, begitu alasannya. Oh ya toko ini juga tidak buka cabang di tempat lain.
Lihat-lihat modelnya, ok-ok juga. Sepatu yang solnya berbahan kulit ternyata lumayan banyak. Akhirnya ketemu juga model yang sesuai selera. Di kaki juga berasa enak. Telapak kulit. Harga? Pertama lihat label yang sempet mengira harganya 2.75 juta. Terus dipatut baik2 sekali lagi, ternyata 275 ribu! Akhirnya tekadku sudah bulat untuk ambil yang satu ini. Terus naksir lagi sepatu ke 2, sepatu boot dengan telapak yang juga dari kulit. Harga-nya juga menggoda 375 ribu! Pada hal 6 tahun yang lalu di sebuah toko di Mal Citra Plaza Pekanbaru pernah lihat sepatu yang model itu (dengan sol kulit juga) dengan harga 2.6 juta s/d 3.6 juta.
Sayang boot itu nomor paling gede-nya cuma sampai 8 ½. Pada hal aku butuh yang nomor 9. Ya udah, akhirnya hanya sepasang yang terbawa pulang. Someday, I’ll be back.
