
Sekali Merdeka Tetap Sengsara….!
August 15, 2007Hikmah apa yang kita mau ambil dari peringatan hari kemerdekaan 17 nanti?

Coba lah melihat apa yang terjadi disekeliling kita.
- Swastanisasi jalan tidak hanya dilakukan operator tol, tapi juga boleh dilakukan oleh perorangan. Lihatlah di pertigaan Jalan Asia-Afrika & Jl Pintu satu Senayan, puteran U-turn di Jalan Wahid Hasyim yang mengarah ke Tanah Abang, serta ratusan bahkan ribuan tempat yang mungkin tak terlihat oleh kita di seluruh Jabodetabek ini. Kita belum merdeka dari pungutan liar ini.
- Cobalah makan di kaki lima mana saja di ibukota ini. Untuk satu porsi makanan yang kita makan, mungkin bisa didatangin 2-3 kali pengamen yang berbeda. Kita belum merdeka dari pungutan atas nama belas kasihan ini.
- Coba lah naik bis kota jurusan mana saja (kecuali bus way), pada jam berapa pun. Sebelum anda sampai tujuan, coba hitung berapa kali anda ditagih sumbangan yang lagi2 oleh pengamen dengan berbagai improvisasi.
- Coba lah perhatikan polisi2 di lampu-merah2. Coba tebak kemanakah mata2 mereka lebih konsentrasi tertuju. Lebih tertuju mengatur lalu lintas, atau lebih tertuju untuk menangkap sekecil apa-pun kesalahan pengendara.
- Coba lah urus SIM sendiri, perhatikan berapa banyak calo mengerubuti anda. Hitung berapa % kelebihan biaya yang harus anda keluarkan dari bandrol resminya.
- Coba lah urus KTP sendiri. Kita bahkan tidak tahu berapa harga resminya.
- Cobalah urus tanah sendiri. Catat berapa duit lebih yang anda harus keluarkan di RT, RW, Kelurahan, Kecamatan, sampai di BPN.
- Coba lah lihat TV betapa banyak berita aneh2 di negeri ini. Rakyat disuruh konversi minyak tanah ke gas, tapi gas malah hilang di pasaran.
- Coba lihat lagi tingkah laku elit2 kita, betapa gampang jalan2 ke luar negeri atas alasan apa pun, sementara banyak guru yang merana karena gaji seadanya.
- Coba perhatikan wajah2 resah orang tua pada setiap ajaran baru. Pusing dengan uang baju, buku dan ini-itu.
Kita sudah 62 tahun merdeka, tapi dimanakah kenikmatan kemerdekaan itu? Tidak ada lagi haru ketika mendengar pekikan “sekali merdeka, tetap merdeka!…”. Eforia itu sudah basi.
Dengan tangan terkepal dan jujur kita seharusnya meneriakan “Sekali merdeka …tetep sengsara…”
Dirgahayu Kemerdekaan RI yang 62.