Yess! Akhirnya camera impian ini tereksekusi sudah. Ditengah anjloknya nilai rupiah akhirnya kamera Canon EOS 400D ini dieksekusi juga. Dengan usaha yang tidak kenal menyerah untuk mencari harga gila, akhirnya ketemu juga toko yang jual dengan harga Rp. 6.800.000,-atau setara U$D 735.14 dengan kurs 9.250. Pada hal minggu lalu harganya ggk turun dari U$D 748 di Mangga Dua.

Awal-awalnya sih naksir Canon S3 IS sekitar 2-3 bulan lalu. Waktu itu saya lagi menikmati cuti dalam kota 2 hari. Mainlah saya ke Electronic City di SCBD. Ketika lihat S3 IS itu dipajang, saya tertarik. Kebetulan pelayannya sangat menguasai produk tsb, ramah, sabar dan tulus. Dia ggk marah ketika saya bolak-balik ke situ nanya itu-itu lagi.

S3 IS itu kamera prosumer 6 MP. Features-nya menarik. LCD 2 inchi bisa muter alias swivel. Jadi kalo bidik bisa dari sudut2 yang susah. Hebat juga.
Esok2nya browsing di internet ternyata sudah muncul produk baru, lanjutan untuk model yang sama, yaitu Canon S5 IS. Tapi barang itu belum masuk ke pasar di Indonesia. S5 IS ini mempunyai LCD ukuran 2.5 inchi dengan pixel 8 MP. Bisa swivel juga. Tampilan fisik persis sama, hanya sedikit lebih gede dari S3 IS.
Dari browsing saya tahu apa kelebihan produk ini dibanding produk lainnya. Saya jadi rajin baca review product baik di Digital Review, iklan, maupun dari omongan lepas para blogger penggemar fotografi. Saya juga rajin ngumpulin setiap picture yang diambil dari setiap merek untuk dibandingkan dengan mata awam saya. Ada Canon G7, Canon 300D, 350D, 400D. Ada Nikon D70, D40, D40X. Olympus 550 UZ, E-410, E-500, E-550. Pentax K100D, K10D. Ada Sony Cyber Shot.

Saya menjadi tahu bahwa ternyata raja di dunia fotografi itu dipegang 2 merek, kalo ggak Canon yah Nikon. Dua-dua nya punya penggemar fanatik. Ketika main ke Toko Buku Aksara di Plaza Indonesia, iseng2 saya buka-buka buku fotografi karya Pak Sigit Pramono, Dirutnya BNI. Wah dia pake Canon, batin saya. Ketika nonton Work Hard Play Hard di O’ Chanel, si fotografer pake Canon juga. Lihat si Darwis Triadi, E, pake Canon juga. Ketika bikin pas photo, tukang fotonya pake Canon juga. Sorry bukan bermaksud mengecilin produk lainnya, saya berkesimpulan bahwa tidak salah omongan orang2 di dunia fotografi bahwa rajanya dunia foto itu yah Canon. Entah lah kalo saya yang sok tahu….
Untuk hunting harga di internet saya rajin simak harga di Tokocamzone, JPC Kemang, dan Oktagon. Untuk beli sudah direncanakan, yah tentu saja ke Mangga Dua. Ada banyak toko yang jual camera di sana. Rumusnya adalah saya harus menawar camera itu di Mangga Dua dengan harga lebih murah di internet, atau minimal sama.
Waktu yang paling baik membelinya tentu saja saat kurs dollar lagi turun. Tapi kapan? Hari-hari terakhir malah dollarnya menguat, rupiah melempem. Wah bahaya nih kata saya waktu itu. Dari pada dollar melaju tak terkendali, apa lagi mau pilkada DKI, maka lebih baik segera dieksekusi saja. Lagian saya sering iri waktu nonton International Motor Show di JCC beberapa hari lalu orang-orang pada nentengin SLR. Bukannya nonton mobil yang dipajangin, saya malah sibuk melototin kamera merek apa yang mereka (para fotografer amatir mau pun pro) pake. Yah Canon lagi, Canon lagi. Bikin saya hilang kesabaran….J
Akhirnya saya berkesimpulan adalah tanggung untuk beli camera poket atau pun prosumer. Lebih baik kamera pro saja. Yah digital pro, DSLR. Dan pilihannya jatuh ke Canon EOS 400D. Pixel 10 MP, LCD 2.5 inchi. Tidak apa-apa capek bolak-balik hunting harga gila ke Mangga Dua. Lelah itu terobati ketika nemu harga 6.8 juta atau USD 735 di saat dollar lagi kuat-kuatnya. Sempat juga ketar-ketir ngirain si penjual ggk lihat kurs hari itu. Saya merasa beruntung karena di toko sebelumnya sempat nawar Rp.6.850,000,-, tapi ggk dikasih, si penjual bertahan di harga Rp.6.950.000,-. Ini namanya nasib baik.
Thanks Hon……..