h1

Malaysia : The Truly Asia?

October 9, 2007

Sungguh …
Saya tak berhasrat lagi ke Malaysia. Andaikan punya kesempatan, saya akan memilih cukup ke S’pore atau ke Thailand saja. Lupakan saja negeri budak melayu sombong itu.

rasasayang3.jpg 

Mereka tak punya budaya asli. Malas berkreasi. Suka comot sana-sini. Sehingga tiba-tiba saja lagu “Rasa Sayange” yang sudah jelas2 beraksen Maluku diklaim sebagai lagu mereka dan menjadi soundtrack komersil wisata negaranya. Lagu Lenggang Kangkung juga konon disebut-sebut bakal dibajak juga. Tidak itu saja. Batik, dan Rendang sudah dipatenkan mereka. Wayang katanya juga milik mereka. Jangan2 tari kecak asli Bali itu juga nanti bisa klaim milik mereka. 

Berani melancong ke sana sama artinya berjudi dengan nasib anda. Tidak peduli anda mampu menginap di Hotel kelas satu, anda akan dianggap mula-mula seperti babu, pendatang haram. Sekali anda digeledah karena disangka TKI Ilegal maka anda berkemungkinan besar untuk  direndahkan, diinjak-injak harga dirinya, bahkan bisa jadi harta anda dikuras sama yang namanya POLIS atau Pasukan RELA-nya.

Polisi disana sama berbahayanya dengan bandit jalanan entah perampok, penipu, bahkan mungkin lebih kejam. Dua kasus yang mengemuka baru2 ini adalah kasus perkosaan TKW Indonesia asal Lampung oleh Polisi Malaysia dan seorang lagi TKW asal NTB oleh seorang pasukan RELA Malaysia. Dan kejadian ini tidak ada jaminan untuk tidak terulang.

Berita terbaru adalah ditangkapnya istri atase pendidikan RI yang lagi berbelanja oleh pasukan RELA Malaysia (mungkin semacam Tibum kali yah). Kasus penganiayaan berat wasit karateka Indonesia oleh polisi Malaysia yang sempat mengemuka sampai ke Presiden saja tidak jelas perkembangannya. Bagaimana kalau kejadian itu menimpa kita yang cuma rakyat biasa? Bagi Malaysia, INDON is NOTHING. Tak Payah lah.

Saking banyaknya perantau Indonesia yang mengadu untung di sektor2 informal di sana membuat mereka mengidentikan bangsa ini sebagai bangsa kelas babu. Yah itu lah kita. Kita baru mampu mengekspor kelas pembantu rumah tangga, dan di tanah melayu itu mereka siap2 dimangsa lagi oleh juragannya, Pasukan RELA, atau jadi santapan empuk Polisi Diraja Malaysia..

INDON is NOTHING. Itulah anggapan Puak Melayu berbakat Tirani itu ke bangsa kita. Simak ancaman seorang Polisi Malaysia terhadap seorang wisatawan Indonesia dan isteri yang tengah berwisata di negeri itu. “If those indon run, just shoot them… “. Kita benar-benar dianggap seperti penjahat kriminal! Just shoot them!

Bagi anda yang berkeinginan melancong ke Malaysia cuma untuk lihat Twin Tower Petronas sebaiknya urungkan niat anda. Cari negara lain yang lebih bisa menghargai dan menghormati anda sebagai wisatawan. Keselamatan diri anda dan keluarga adalah nomor satu. Ancaman di Malysia lebih banyak. Penjahatnya (yang di Indonesia juga banyak!), POLISI-nya, pasukan RELA-nya, dan pandangan sinis warganya karena kita adalah INDON. INDON is BABU, BABU is NOTHING. You may shoot them!

Pemerintah sudah seharusnya mengeluarkan Travel Warning untuk warga Indonesia yang mau ke Malaysia. Malaysia berbahaya bagi wisatawan asal Indonesia.

Cerita ini di dapat dari sebuah milist. Silahkan baca selengkapnya di seperti bawah ini :

#########################
Nama saya Budiman Bachtiar Harsa, 37 tahun,  WNI asal Banten, karyawan di BUMN berkantor di Jakarta.  Kasus pemukulan wasit Donald Peter di Malaysia, BUKAN  kejadian pertama. Behubung sdr Donald adalah seorang  “Tamu Negara” hingga kasusnya terexpose besar-besaran.  Padahal kasus serupa sering menimpa WNI di Malaysia.  BUKAN HANYA TKI Atau Pendatang Haram, tapi juga WISATAWAN.

Tahun 2006, bulan Juni, saya dan keluarga (istri, 2  anak, adik ipar), pertama kalinya kami “melancong” ke  Kuala Lumpur Malaysia. (Kami sudah pernah berwisata ke negara2 lain, sudah biasa dengan berbagai aturan imigrasi). Hari pertama dan kedua tour bersama Travel agent ke Genting Highland, berjalan lancar, kaluarga bahagia anak-anak gembira.

Hari ketiga city tour di KL, juga berjalan normal. Malam harinya, kami mengunjungi KLCC yang ternyata sangat dekat dari Hotel Nikko, tempat kami menginap. Usai makan malam, berbelanja sedikit, adik ipar dan anak-anak saya pulang ke hotel karena kelelahan, menumpang shuttle service yang disediakan Nikko Hotel. Saya dan istri berniat berjalan-jalan, menikmati udara  malam seperti yg biasa kami lakukan di Orchrad Singapore, toh kabarnya KL cukup aman. Mengambil jalan memutar, pukul 22.30, di dekat HSC medical, lapangan dengan view cukup bagus ke arah Twin Tower.

Saat berjalan santai, tiba2 sebuah mobil Proton berhenti, 2 pria turun mendekati saya dan istri. Mereka tiba-tiba meminta identitas saya dan istri, saya balas bertanya apa mau mereka. Mereka bilang “Polis”, memperlihatkan kartu sekilas, lalu saya jelaskan saya Turis, menginap di Nikko hotel. Mereka memaksa minta passport, yang TIDAK saya bawa. (Masak sih di negeri tetangga, sesama melayu, speak the same language, saya dan istri bisa berbahasa inggris, negara yg tak butuh visa, kita masih harus bawa passport?). Salah satu “polis” ini bicara dengan HT, entah apa yg mereka katakan dengan logat melayunya, sementara seorang rekannya tetap memaksa saya mengeluarkan identitas. Perliaku mereka mulai tak sopan dan Istri saya mulai ketakutan. Saya buka dompet, keluarkan KTP. Sambil melotot, dia tanya :
“kerja ape kau disini?”
saya melongo… kan turis, wisata. Ya jalan-jalan aja lah, gitu saya jawab. Pak polis membentak dan mendekatkan mukanya ke wajah saya: KAU KERJA APE? Punya Licence buat kerja?

Wah kali dia pikir saya TKI ilegal. Saya coba tetap tenang, saya bilang saya bekerja di Jakarta, ke KL untuk wisata. Tiba-tiba salah satu dari mereka mencoba memegang tas istri, dan bilang: “mana kunci Hotel?”…
wah celakanya kunci 2 kamar kami dibawa anak dan ipar saya yg pulang duluan ke hotel.

Saya ajak mereka ke hotel yang tak jauh dari lokasi kami. Namun pak Polis malah makin marah, memegangi tangan saya, sambil bilang: Indon… dont lie to us. Saya kurung kalian…

Jelas saya menolak dan mulai marah. Saya ajak mereka ke hotel Nikko, dan saya bilang akan tuntut mereka habis2an. sambil memegangi tangan saya, tuan polis meludah kesamping, dan bilang: kalian semua sama saja…

Saat itu sebuah mobil polisi lainnya datang, pake logo polisi, seorang polisi berseragam mendekat. Di dadanya tertulis nama: Rasheed. Saya merapat ke pagar taman sambil memegang istri yang mulai menangis. Melawan 3 polis, tak mungkin. Mereka berbicara bertiga, mirip berunding. Wah, apa polis malaysia juga sama aja, perlu mau nyari kesalahan orang ujung2nya merampok?

Petugas berseragam lalu mendekati saya, meminta kami untuk tetap tenang. Saya bertanya, apa 2 orang preman melayu itu polisi, lalu polisi berseragam itu mengiyakan. Rupanya karena saya mempertanyakan dirinya, sang preman marah dan mendekati saya, mencengkram leher jaket saya, dan siap memukul, namun dicegah polisi berseragam.

Polisi berseragam mengajak saya kembali ke Hotel untuk membuktikan identitas diri. saya langsung setuju, namun keberatan bila harus menumpang mobil polisi. Saya minta untuk tetap berjalan kaki menuju Nikko Hotel, dan mereka boleh mengiringi tapi tak boleh menyentuh kami. Akhirnya kami bersepakat, namun polisi preman yang sempat hampir memukul saya sempat berkata: 
if those indon run, just shoot them… katanya sambil menunjuk istri saya. Saya cuma bisa istigfar saat itu, ini rupanya nasib orang Indonesia di negeri tetangga yang sering kita banggakan sebagai “sesama melayu”.

Diantar polisi berseragam saya tiba di Nikko Hotel. Saya minta resepsionis mencocokan identitas kami, dan saya menelpon adik ipar untuk membawakan kunci. Pihak Nikko melarang adik saya, dan mengatakan kepada sang Polis, bahwa saya adalah tamu hotel mereka, WNI yang menyewa suites family, datang ke Malaysia dengan Business class pada Flight Malayasia Airlines.  Pak Polis preman mendadak ramah, mencoba menjelaskan bahwa di Malaysia mereka harus selalu waspada. Saya tak mau bicara apapun dan mengatakan bahwa saya sangat tersinggung, dan akan mengadukan kasus ini, dan “membatalkan rencana bisnis dengan sejumlah rekan di  malaysia” (padahal saya tak punya rekan bisnis di negeri sial ini).

Polisi berseragam berusaha tersenyum semanis mungkin, berusaha keras untuk akrab dan ramah, petugas Nikko Hotel kelimpungan dan berusaha membuat kami tersenyum. Setelah istri saya mulai tenang, saya mengambil HP P9901 saya dan merekam wajah kedua polisi ini.  Keduanya berusaha menutupi wajah, meminta saya untuk tidak merekam wajah mereka. Istri saya minta kita mengakhiri konflik ini, dan sayapun lelah. Kami tinggalkan melayu-melayu keparat ini, tanpa berjabat tangan.

Sepanjang malam saya sangat gusar, dan esoknya kami membatalkan tur ke Johor baru, mengontak travel agent agar mencari seat ke Singapore. Siang usai makan siang, saya tinggalkan Malaysia dengan perasaan dongkol, dan melanjutkan liburan di Singapore.

Mungkin saya sial? ya. Mungkin saya hanya 1 dari 1000.  WNI yang apes di Malaysia? bisa. Tapi saya catat bahwa bila saya pernah dihina, diancam, bahkan hampir dipukuli, bukan tak mungkin masih ada orang lain mengalami hal yg sama.

Jadi, kalau hendak berlibur di Malaysia, sebaiknya pikir masak2. Jangankan turis, Rombongan atlet saja bisa dihajar polisi Malaysia. Bayangkan bila perlakuan seperti ini dilakukan dihadapan anak kita. Tentu anak akan trauma, sekaligus sedih.

Hati-hati pada PROMOSI WISATA MALAYSIA. Di Malaysia,  WNI diperlakukan seperti Kriminal.

##########################

6 comments

  1. waw malaysia memang the truly brutality Asia


  2. anjing kau malaysia memeng lhoe bangsa yang gak pernah balas budi kamu tau dulu indon mantu lhoe mulai dari pendidikan dan laen2,sekarang l;hoe suka nyuri produk buatan indon bahkan tempe pun katanya milik lhoee,kamu bangsa yang malas


  3. Mengapa Malaysia bisa maju, ya tentu karena pemimpinnya dan para penyelengara pemerintahannya, dan salah satunya tentu penyelenggaraan pendidikan untuk rakyatnya sangat baik dan mementingkan kepentingan rakyatnya. tidak seperti di negeri kita, dana pendidikan saja teganya dikorup, hal ini kita harus sadari. Tapi kalau perlakuan polis atau apalah namanya petugas itu terhadap orang indon yang ada di negerinya, karena telanjur taunya mereka indon adalah budak (TKW bahasa halusnya di kita),yang sudah sering tertangkap tanpa identitas yang legal maka turispun dianggap budak. Sikap mereka yang sombong itu mungkin karena orang bodoh yang terlalu cepat menikmati kemajuan negerinya, orang kaya baru deh istilahnya, hingga lupa asal-usulnya sesama serumpun.


  4. beberapa tahun yang lalu pun saya pernah transit di Malaysia, dalam perjalanan pulang ke tanah air dari Jepang.Walaupun hanya semalam tapi kesan muak terhadap negara malaysia belum bisa saya hilangkan hingga sekarang.Sudah hampir 5 tahun, tapi saya masih bisa memegang janji saya sendiri untuk tidak ke Malaysia maupun sekedar transit di Malaysia.
    no more nightmare!


  5. Mr Budiman,
    You can actually make a police report and submit the report to your embassy for follow-up action.
    If it is true,I believe you can sue the police for more than RM100K. However, all tourist in Malaysia must always bring thier passport as how Malaysian carry thier Identity card all the time else, you can be jailed for a week.


  6. 2 juta jiwa tki ada di malaysia. mengapa mereka betah?



Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: