Archive for the ‘Produk’ Category

h1

Beberapa contoh hasil bidikan

August 8, 2007

Sabtu 4 Ags 07 kemarin beli filter lensa CPL and tripod di Mangga Dua (lagi). Karena filter CPL merk Hoya mahal (280 rb), maka beli yang lebih murah : merk Kenko. Ini pun nyarinya lumayan susah untuk ukuran lensa kit 58 mm. Ketemu di satu toko dengan harga 215 ribu. Coba keliling lagi harap2 ketemu toko dengan penawaran lebih murah dari 215 ribu. Capek keliling, tidak ada yang jual merk Kenko, maka balik lagi ke toko semula. Terpaksa ambil yang harga 215 ribu. Untuk Tripod ketemu di harga 130 ribu merek Excell. Tripod ini mutlak buat ambil Nightshot, karena main di ISO tinggi dan shutter speed agak lambat.

Habis dari Mangga Dua langsung hunting ke Le’ Bridge Ancol. Cari moment sunset. Harap2 dapat moment bagus. Beberapa hasilnya bisa dilihat di Multiply baginda di http://bagindazzz.multiply.com.

Silahkan dikunjungi.

dimultiply.jpg 

Hasilnya masih belum banyak dan belum begitu bagus, maklum masih tahap belajar….

Advertisements
h1

Canon EOS 400D.. Sudah Dieksekusi!

August 1, 2007

Yess! Akhirnya camera impian ini tereksekusi sudah. Ditengah anjloknya nilai rupiah akhirnya kamera Canon EOS 400D ini dieksekusi juga. Dengan usaha yang tidak kenal menyerah untuk mencari harga gila, akhirnya ketemu juga toko yang jual dengan harga Rp. 6.800.000,-atau setara  U$D 735.14 dengan kurs 9.250.  Pada hal  minggu lalu harganya ggk turun dari U$D 748 di Mangga Dua.  

 caon_eos_400d_front_back_top2.jpg

Awal-awalnya sih naksir Canon S3 IS sekitar 2-3 bulan lalu. Waktu itu saya lagi menikmati cuti dalam kota 2 hari. Mainlah saya ke Electronic City di SCBD. Ketika lihat S3 IS itu dipajang, saya tertarik.  Kebetulan pelayannya sangat menguasai produk tsb, ramah, sabar dan tulus. Dia ggk marah ketika saya bolak-balik ke situ nanya itu-itu lagi. 

 

 can_s5is_s3is.jpg

S3 IS itu kamera prosumer  6 MP. Features-nya menarik. LCD 2 inchi bisa muter alias swivel. Jadi kalo bidik bisa dari sudut2 yang susah. Hebat juga. 

 

Esok2nya browsing di internet ternyata sudah muncul produk baru, lanjutan untuk model yang sama, yaitu Canon S5 IS.  Tapi barang itu belum masuk ke pasar di Indonesia. S5 IS ini mempunyai LCD ukuran 2.5 inchi dengan pixel 8 MP. Bisa swivel juga. Tampilan fisik persis sama, hanya sedikit lebih gede dari S3 IS.

 

Dari browsing saya tahu apa kelebihan produk ini dibanding produk lainnya. Saya jadi rajin baca review product baik di Digital Review, iklan,  maupun dari omongan lepas para blogger penggemar fotografi.  Saya juga rajin ngumpulin setiap picture yang diambil dari setiap merek untuk dibandingkan dengan mata awam saya. Ada Canon G7, Canon 300D, 350D, 400D. Ada Nikon D70, D40, D40X. Olympus 550 UZ, E-410, E-500, E-550. Pentax K100D, K10D. Ada Sony Cyber Shot.

 

folder_foto.jpg

 

 

Saya menjadi tahu bahwa ternyata raja di dunia fotografi itu dipegang 2 merek, kalo ggak Canon yah Nikon. Dua-dua nya punya penggemar fanatik. Ketika main ke Toko Buku Aksara di Plaza Indonesia, iseng2 saya buka-buka buku fotografi karya Pak Sigit Pramono, Dirutnya BNI. Wah dia pake Canon, batin saya. Ketika nonton Work Hard Play Hard di O’ Chanel, si fotografer pake Canon juga. Lihat si Darwis Triadi, E, pake Canon juga. Ketika bikin pas photo, tukang fotonya pake Canon juga. Sorry bukan bermaksud mengecilin produk lainnya, saya berkesimpulan bahwa tidak salah omongan orang2 di dunia fotografi bahwa rajanya dunia foto itu yah Canon.  Entah lah kalo saya yang sok tahu….

 

Untuk hunting harga di internet saya rajin simak harga di Tokocamzone, JPC Kemang, dan Oktagon. Untuk beli sudah direncanakan, yah tentu saja ke Mangga Dua. Ada banyak toko yang jual camera di sana. Rumusnya adalah saya harus menawar camera itu di Mangga Dua dengan harga lebih murah di internet, atau minimal sama. 

 

Waktu yang paling baik membelinya tentu saja saat kurs dollar lagi turun. Tapi kapan? Hari-hari terakhir malah dollarnya menguat, rupiah melempem. Wah bahaya nih kata saya waktu itu. Dari pada dollar melaju tak terkendali, apa lagi mau pilkada DKI, maka lebih baik segera dieksekusi saja. Lagian saya sering iri waktu nonton International Motor Show di JCC beberapa hari lalu orang-orang pada nentengin SLR. Bukannya nonton mobil yang dipajangin, saya malah sibuk melototin kamera merek apa yang mereka (para fotografer amatir mau pun pro) pake. Yah Canon lagi, Canon lagi. Bikin saya hilang kesabaran….J

 

Akhirnya saya berkesimpulan adalah tanggung untuk beli camera poket atau pun prosumer. Lebih baik kamera pro saja. Yah digital pro, DSLR. Dan pilihannya jatuh ke Canon EOS 400D. Pixel 10 MP, LCD 2.5 inchi. Tidak apa-apa capek bolak-balik hunting harga gila ke Mangga Dua. Lelah itu terobati ketika nemu harga 6.8 juta atau USD 735 di saat dollar lagi kuat-kuatnya. Sempat juga ketar-ketir ngirain si penjual ggk lihat kurs hari itu. Saya merasa beruntung karena di toko sebelumnya sempat nawar Rp.6.850,000,-, tapi ggk dikasih, si penjual bertahan di harga Rp.6.950.000,-. Ini namanya nasib baik.

Thanks Hon……..

h1

Sepatu Murah di Passer Baroe

July 16, 2007

Mungkin sudah 6 pasang sepatu dalam 4 tahun terakhir ini aku habiskan. Mulai dari merk antah berantah seharga 85 ribu yang dibeli di Mal Blok M sampai  merk Playboy yang dibeli sale 50% di sebuah toko sepatu di Mal Pondok Indah. Tapi apa daya, semua berakhir dengan kondisi sama. Sepatu-sepatu itu  patah pada bagian telapak (sol) -nya.  Persis dilekukan antara telapak dengan jari-jari kaki.

 Bagaimana supaya tidak patah? :

1.      Rubah cara berjalan. Rasanya insopibel. Dari sononya sudah begitu. Untuk merubahnya berat, mungkin biayanya lebih gede karena harus kursus dulu di sekolah Modelling Oki Asokawati. 

2.      Turunkan berat badan. Dengan berat 86 kg sekarang bisa jadi salah satu yang memperpendek umur sepatu2 itu. Tapi dengan berat 74 kg 4 tahun yang lalu saja tetap bikin patah sepatu. So, ini solusinya belum optimal.

 3.     Cari bahan yang paling tahan untuk telapaknya.  Bahan yang paling kenyal alias anti patah itu biasanya bahan yang terbuat dari kulit. 

Maka  perburuan pencarian sepatu dengan telapak kulit itu pun dimulai.  Kebetulan lagi ada Jakarta Great Sales up to 70 %.  Berharap ketemu sepatu sesuai yang diinginkan dengan harga reasonable. Hunting ke Pasaraya Grande.  Ada yang telapaknya kulit, tapi modelnya tidak sesuai selera. Lagi pula kulit pada telapaknya terpasang setengah. Sudah begitu harganya kemahalan : 1.3 juta. Sayang sekali rasanya nginjak-nginjak duit 1.3 juta. Hunting lagi ke Plasa semanggi. Tidak nemu juga. 

Jadi ingat liputan DKI 15 -nya Jak-TV  tentang Pasar Baru. Pasar Baru itu dulu khan dikenal sebagai pusat sepatu. Sabtu kemarin akhirnya nyape juga ke Pasar yang berdiri sejak 1820 itu. Toko pertama, celingak-celinguk. Modelnya ggak ada yang menarik hati, lagi pula yang telapaknya kulit tidak ada. Pindah ke toko sepatu kedua. Masih sama dengan kondisi toko pertama.. Toko ketiga..keempat..ke lima… ke enam.. mungkin baru toko ke tujuh ketemu sebuah toko dengan nama chinesse. Toko Sepatu Sin Lie Seng. Ini toko sepatu rada unik dibanding toko sepatu lainnya.  Semua sepatu diberi merek yang sama dengan nama tokonya.  Toko ini ternyata sepatu-sepatunya bikinan sendiri. Makanya tidak jual merek lain.  Juga terima perbaikan sepatu selama sepatu tersebut dibeli di toko itu. Tidak terima perbaikan sepatu merk lain, karena cetakannya ggk ada, begitu alasannya.  Oh ya toko ini juga tidak buka cabang di tempat lain.

Lihat-lihat modelnya, ok-ok juga.  Sepatu yang solnya berbahan kulit ternyata lumayan banyak. Akhirnya ketemu juga model yang sesuai selera.  Di kaki juga berasa enak.  Telapak kulit. Harga? Pertama lihat label yang sempet mengira harganya 2.75 juta.  Terus dipatut baik2 sekali lagi, ternyata 275 ribu!  Akhirnya tekadku sudah bulat untuk ambil yang satu ini.  Terus naksir lagi sepatu ke 2, sepatu boot dengan telapak yang juga dari kulit. Harga-nya juga menggoda 375 ribu! Pada hal 6 tahun yang lalu di sebuah toko di Mal Citra Plaza Pekanbaru pernah lihat sepatu yang model itu (dengan sol kulit juga)  dengan harga 2.6 juta s/d 3.6 juta.

Sayang boot itu nomor paling gede-nya cuma sampai 8 ½.  Pada hal aku butuh yang nomor 9.   Ya udah, akhirnya hanya sepasang yang terbawa pulang. Someday, I’ll be back.

sepatu.jpg

h1

Kamera impian…Canon EOS 400D

July 13, 2007

Lagi naksir berat Camera Digital SLR yang satu ini nih….

canon_1front.jpg

canon_2back.jpg

canon_3top.jpg

 

Silahkan baca fitur-nya yang dicapture dari Digital Review sbb :

can_fitur1.jpg

can_fitur2.jpg

 can_fitur3.jpg

Ya Allah….. mudahkan dan lapangkan rejekiku…..

h1

Flexi.. memang bukan telepon biasa (bikin stress)

July 12, 2007

Sudah 4 hari ini no flexi gw susah dihubungi. Jika dihubungi pesan yang keluar selalu mailbox, seolah-olah hp gw ggk aktif.  Jam 11.05 complain ke hotline flexi di 147. Diterima oleh Pak Heri. No gw dicatet. Hanya ditampung saja kayaknya. No solution. Terus tanya nomor telpon gw yang lain yang bisa dihubungi. Gw kasih no kantor berikut ekstension gw.

Lebih kurang setengah jam menunggu, tidak ada konfirmasi lebih lanjut, tidak ada follow up. Gw call lagi ke 147. Diterima ibu Susi. Sama seperti tadi , nyatet no hp yang gw yang bermasalah. Suruh tes dial *510. No respon. Suruh tes lagi call no hp gw tadi, tapi ditambahin code wilayah 021. Tetap gagal dihubungi.  Dia janjiin akan difollow up lebih lanjut sama bagian lain, jadi  untuk sementara ditampung dulu (lagi). Skrg jam 11.48. Gw masih menunggu ada yang konfirmasi bahwa flexi gw sudah ok atau suruh dicoba lagi. Capek menunggu, ggk ada konfirmasi juga.

Bagi yang mau make FLEXI gw saranin untuk berpikir ulang deh. Emang sih tarif per menitnya murah banget : 49 rupiah . Tapi  errornya sering banget. Call dropnya berkali-kali. Nada sambungnya untuk panggilan lokalnya lamaaaaaa banget. Mungkin sekitar 30 detik. Seolah-olah nelpon SLJJ aja. SMS-nya, jangan ditanya. Kayak ngirim paket pake Titipan Kilat. Hari  ini kirim, besok sampai.  FLEXI memang bukan telepon biasa. Cocok banget emang dengan slogannya. Bikin orang stress kalau nelpon karena harus dial berkali-kali. Betul-betul telepon dodol….

Temen gw nyaranin pake FREN aja. Sebenarnya gw udah cape ganti  nomor HP mulu.  Dari Telkomsel, Mentari, Flexi, Trus mau pake FREN lagi? Capee deh…. 

Ada saran?