h1

Desain Rumah Mungil (Luas Tanah=60 m2, Luas Bangunan 88.5 m2)

September 5, 2007

Harga tanah di Jakarta mahal. Bahkan di salah satu real estate dipatok seharga 25 juta per meter persegi. Bagi kalangan berduit harga segitu mungkin tidak masalah, asal bisa memuaskan si empunya baik untuk tujuan kenyamaan hidup mau pun demi sebuah prestise.

 

Untuk kalangan dengan penghasilan terbatas banyak ditawarkan rumah sederhana atau sangat sederhana oleh para developer. Sesuai dengan namanya, tanahnya pun dibuat sedemikian kecil. Untuk saat ini perumahan sederhana biasanya ditawarkan dengan tanah lebih kurang 60 m2.

 

Luas Bangunan standar biasanya 21 m2 atau 36 m2. Terus terang, rumah ukuran  segitu sebenarnya terlalu sempit untuk bisa hidup nyaman. Sudahlah lokasinya jauh di pinggiran Jakarta sana, sampe di rumah malah sesak napas, karena mau selonjor saja susah. Untuk bisa sedikit lega, rumah perlu didesain ulang dengan pengaturan ruang yang seoptimal mungkin. Karena nggak sekolah arsitek, tapi senang corat-coret, maka disain versi saya adalah seperti gambar di bawah ini.

 

tipe_60_88.jpg 

 

Desain-desain rumah kecil versi lain are welcome…Silahkan sharing…

Advertisements
h1

Minah, Dikau Dimana?

August 22, 2007

Siapa yang menghisap minyak tanah dan minyak goreng itu sehingga 2 barang itu menghilang di pasaran. Ada yang bilang si “minah” itu menghilang karena pemaksaan program konversi bahan bakar masak ke gas. Sementara minyak goreng naik karena meningkatnya harga CPO dunia.

Di kampung metropolitan ini dan seluruh pelosok negeri ini orang antri dimana-mana untuk beberapa liter minyak tanah. Bila perlu adu jotos. Catat! ini bukan tahun 1965, ini tahun 2007 setelah 62 tahun kita merdeka. Mau masak pake kayu pun, kayunya sudah tak ada.

Suatu ironi tatkala kita bergembira menyambut hari ulang tahun republik ini, kita malah dihadiahi kelangkaan kebutuhan dapur itu. Sejauh ini tidak jelas apa yang mau diperbuat pemerintah untuk menghentikan kelangkaan ini. Salah seorang anggota dewan malah menolak jika publik mempersalahkan pertamina. Pertamina hanya jualan katanya. BPH Migas dan DESDM bertanggung jawab soal distribusinya.

Konversi kalo memang menjadi pilihan terakhir karena pemerintah mau menekan subsidi ya lebih baik dipersiapkan dengan sematang-matangnya. Perhatikan juga kultur masyarakat kita. Masyarakat kita tidak terbiasa belajar cepat. Wong disuruh antri aja susah, apa lagi ini mengubah cara hidup (di dapur). Ukur juga diri sendiri apakah pemerintah benar2 sudah siap untuk konversi ini sepenuhnya. Ingat kesalahan manajemen buntutnya adalah keresahan di tingkat bawah. Implementasi harusnya bertahap, jangan instan. Maunya serba cepat, langsung nikmat. Mirip kontes idol2an, cepat populer untuk kemudian langsung senyap.

Ayo, bersama kita bisa…

Sama-sama manyun…. dan merana 🙂

h1

Sekali Merdeka Tetap Sengsara….!

August 15, 2007

Hikmah apa yang kita mau ambil dari peringatan hari kemerdekaan 17 nanti?

wajah2.jpg

Coba lah melihat apa yang terjadi disekeliling kita.

– Swastanisasi jalan tidak hanya dilakukan operator tol, tapi juga boleh dilakukan oleh perorangan. Lihatlah di pertigaan Jalan Asia-Afrika & Jl Pintu satu Senayan, puteran U-turn di Jalan Wahid Hasyim yang mengarah ke Tanah Abang, serta ratusan bahkan ribuan tempat yang mungkin tak terlihat oleh kita di seluruh Jabodetabek ini. Kita belum merdeka dari pungutan liar ini.

– Cobalah makan di kaki lima mana saja di ibukota ini. Untuk satu porsi makanan yang kita makan, mungkin bisa didatangin 2-3 kali pengamen yang berbeda. Kita belum merdeka dari pungutan atas nama belas kasihan ini.

– Coba lah naik bis kota jurusan mana saja (kecuali bus way), pada jam berapa pun. Sebelum anda sampai tujuan, coba hitung berapa kali anda ditagih sumbangan yang lagi2 oleh pengamen dengan berbagai improvisasi.

– Coba lah perhatikan polisi2 di lampu-merah2. Coba tebak kemanakah mata2 mereka lebih konsentrasi tertuju. Lebih tertuju mengatur lalu lintas, atau lebih tertuju untuk menangkap sekecil apa-pun kesalahan pengendara. 

– Coba lah urus SIM sendiri, perhatikan berapa banyak calo mengerubuti anda. Hitung berapa % kelebihan biaya yang harus anda keluarkan dari bandrol resminya.

– Coba lah urus KTP sendiri. Kita bahkan tidak tahu berapa harga resminya.

– Cobalah urus tanah sendiri. Catat berapa duit lebih yang anda harus keluarkan di RT, RW, Kelurahan,  Kecamatan, sampai di BPN.

– Coba lah lihat TV betapa banyak berita aneh2 di negeri ini. Rakyat disuruh konversi minyak tanah ke gas, tapi gas malah hilang di pasaran.

– Coba lihat lagi tingkah laku elit2 kita, betapa gampang jalan2 ke luar negeri atas alasan apa pun, sementara banyak guru yang merana karena gaji seadanya.

– Coba perhatikan wajah2 resah orang tua pada setiap ajaran baru. Pusing dengan uang baju, buku dan ini-itu.

Kita sudah 62 tahun merdeka, tapi dimanakah kenikmatan kemerdekaan itu? Tidak ada lagi haru ketika mendengar pekikan “sekali merdeka, tetap merdeka!…”. Eforia itu sudah basi.

Dengan tangan terkepal dan jujur kita seharusnya meneriakan “Sekali merdeka …tetep sengsara…”

Dirgahayu Kemerdekaan RI yang 62.

h1

Beberapa contoh hasil bidikan

August 8, 2007

Sabtu 4 Ags 07 kemarin beli filter lensa CPL and tripod di Mangga Dua (lagi). Karena filter CPL merk Hoya mahal (280 rb), maka beli yang lebih murah : merk Kenko. Ini pun nyarinya lumayan susah untuk ukuran lensa kit 58 mm. Ketemu di satu toko dengan harga 215 ribu. Coba keliling lagi harap2 ketemu toko dengan penawaran lebih murah dari 215 ribu. Capek keliling, tidak ada yang jual merk Kenko, maka balik lagi ke toko semula. Terpaksa ambil yang harga 215 ribu. Untuk Tripod ketemu di harga 130 ribu merek Excell. Tripod ini mutlak buat ambil Nightshot, karena main di ISO tinggi dan shutter speed agak lambat.

Habis dari Mangga Dua langsung hunting ke Le’ Bridge Ancol. Cari moment sunset. Harap2 dapat moment bagus. Beberapa hasilnya bisa dilihat di Multiply baginda di http://bagindazzz.multiply.com.

Silahkan dikunjungi.

dimultiply.jpg 

Hasilnya masih belum banyak dan belum begitu bagus, maklum masih tahap belajar….

h1

Canon EOS 400D.. Sudah Dieksekusi!

August 1, 2007

Yess! Akhirnya camera impian ini tereksekusi sudah. Ditengah anjloknya nilai rupiah akhirnya kamera Canon EOS 400D ini dieksekusi juga. Dengan usaha yang tidak kenal menyerah untuk mencari harga gila, akhirnya ketemu juga toko yang jual dengan harga Rp. 6.800.000,-atau setara  U$D 735.14 dengan kurs 9.250.  Pada hal  minggu lalu harganya ggk turun dari U$D 748 di Mangga Dua.  

 caon_eos_400d_front_back_top2.jpg

Awal-awalnya sih naksir Canon S3 IS sekitar 2-3 bulan lalu. Waktu itu saya lagi menikmati cuti dalam kota 2 hari. Mainlah saya ke Electronic City di SCBD. Ketika lihat S3 IS itu dipajang, saya tertarik.  Kebetulan pelayannya sangat menguasai produk tsb, ramah, sabar dan tulus. Dia ggk marah ketika saya bolak-balik ke situ nanya itu-itu lagi. 

 

 can_s5is_s3is.jpg

S3 IS itu kamera prosumer  6 MP. Features-nya menarik. LCD 2 inchi bisa muter alias swivel. Jadi kalo bidik bisa dari sudut2 yang susah. Hebat juga. 

 

Esok2nya browsing di internet ternyata sudah muncul produk baru, lanjutan untuk model yang sama, yaitu Canon S5 IS.  Tapi barang itu belum masuk ke pasar di Indonesia. S5 IS ini mempunyai LCD ukuran 2.5 inchi dengan pixel 8 MP. Bisa swivel juga. Tampilan fisik persis sama, hanya sedikit lebih gede dari S3 IS.

 

Dari browsing saya tahu apa kelebihan produk ini dibanding produk lainnya. Saya jadi rajin baca review product baik di Digital Review, iklan,  maupun dari omongan lepas para blogger penggemar fotografi.  Saya juga rajin ngumpulin setiap picture yang diambil dari setiap merek untuk dibandingkan dengan mata awam saya. Ada Canon G7, Canon 300D, 350D, 400D. Ada Nikon D70, D40, D40X. Olympus 550 UZ, E-410, E-500, E-550. Pentax K100D, K10D. Ada Sony Cyber Shot.

 

folder_foto.jpg

 

 

Saya menjadi tahu bahwa ternyata raja di dunia fotografi itu dipegang 2 merek, kalo ggak Canon yah Nikon. Dua-dua nya punya penggemar fanatik. Ketika main ke Toko Buku Aksara di Plaza Indonesia, iseng2 saya buka-buka buku fotografi karya Pak Sigit Pramono, Dirutnya BNI. Wah dia pake Canon, batin saya. Ketika nonton Work Hard Play Hard di O’ Chanel, si fotografer pake Canon juga. Lihat si Darwis Triadi, E, pake Canon juga. Ketika bikin pas photo, tukang fotonya pake Canon juga. Sorry bukan bermaksud mengecilin produk lainnya, saya berkesimpulan bahwa tidak salah omongan orang2 di dunia fotografi bahwa rajanya dunia foto itu yah Canon.  Entah lah kalo saya yang sok tahu….

 

Untuk hunting harga di internet saya rajin simak harga di Tokocamzone, JPC Kemang, dan Oktagon. Untuk beli sudah direncanakan, yah tentu saja ke Mangga Dua. Ada banyak toko yang jual camera di sana. Rumusnya adalah saya harus menawar camera itu di Mangga Dua dengan harga lebih murah di internet, atau minimal sama. 

 

Waktu yang paling baik membelinya tentu saja saat kurs dollar lagi turun. Tapi kapan? Hari-hari terakhir malah dollarnya menguat, rupiah melempem. Wah bahaya nih kata saya waktu itu. Dari pada dollar melaju tak terkendali, apa lagi mau pilkada DKI, maka lebih baik segera dieksekusi saja. Lagian saya sering iri waktu nonton International Motor Show di JCC beberapa hari lalu orang-orang pada nentengin SLR. Bukannya nonton mobil yang dipajangin, saya malah sibuk melototin kamera merek apa yang mereka (para fotografer amatir mau pun pro) pake. Yah Canon lagi, Canon lagi. Bikin saya hilang kesabaran….J

 

Akhirnya saya berkesimpulan adalah tanggung untuk beli camera poket atau pun prosumer. Lebih baik kamera pro saja. Yah digital pro, DSLR. Dan pilihannya jatuh ke Canon EOS 400D. Pixel 10 MP, LCD 2.5 inchi. Tidak apa-apa capek bolak-balik hunting harga gila ke Mangga Dua. Lelah itu terobati ketika nemu harga 6.8 juta atau USD 735 di saat dollar lagi kuat-kuatnya. Sempat juga ketar-ketir ngirain si penjual ggk lihat kurs hari itu. Saya merasa beruntung karena di toko sebelumnya sempat nawar Rp.6.850,000,-, tapi ggk dikasih, si penjual bertahan di harga Rp.6.950.000,-. Ini namanya nasib baik.

Thanks Hon……..

h1

Lagi, Innalilahi wainailaihi rojiun. (4) … ada lagi yang mati (ingat lagu Iwan Fals)

July 17, 2007

Entahlah, kok minggu-minggu ini aku banyak terima kabar duka. Habis melayat Ayahanda atasanku tadi , aku lanjutkan melayat adik temenku yang meninggal . Sang adik yang seorang polisi terbunuh karena membela kakak iparnya yang diganggu orang lain. Padahal 2.5 tahun lalu adiknya yang lain yang bekerja sebagai teller di  salah satu bank BUMN ternama juga terbunuh di atas kopaja oleh teman sekampus yang naksir sang adik selama bertahun-tahun.  Penolakan cinta oleh sang adik berakhir tragis. Nyawa kok semakin murah harganya.

Semoga Allah SWT menerima amal solehnya dan keluarga yang ditinggalkan diberi ketabahan.

h1

Innalilahi wainailaihi rojiun (3)… serba tujuh-tujuh

July 17, 2007

Banyak sekali orang menunggu angka serba 7-7 untuk hari perkawinanan. Entah untuk tujuan mendapat nomer cantik hari perkawinan yang gampang diingat atau percaya sebagai hari baik, atau untuk tujuan lainnya. Namun hari ini 17/7/07, dalam usia 77 tahun 0 bulan 0 hari, Ayahanda bekas pimpinan cabangku ketika di Pekanbaru dulu berpulang ke Rahmatullah. Almarhum meninggal persis di hari ulang tahunnya.  

Semoga Allah SWT menerima amal solehnya dan keluarga yang ditinggalkan diberi ketabahan.